• Minggu, 2 Oktober 2022

Seragam Hitam Pengawal VVIP, Dahulu, Siapa yang Memulai? Mengapa Harus Hitam?

- Kamis, 22 September 2022 | 20:39 WIB
Pengawal VVIP berseragam hitam
Pengawal VVIP berseragam hitam
Jakarta, Tajuk24.com -  ‘Security detail’ setiap vvip: top eksekutif, presiden, raja atau ratu, kurang lebih sama. Bila mereka berjalan di area terbuka semua sudah dirancang dan diperhitungkan demikian matang. Tidak bisa asal sembarangan.
 
Pakaian yang dikenakan, seragam pengawalnya, kendaraannya, rutenya, termasuk memperhitungkan dengan cermat bila kejadian buruk terjadi.
 
Semua dicek dan dicek ulang. Ditelaah dan diperiksa lagi. Terus sampai puluhan kali. Bila perlu regu pengawal dibuat beberapa tim, lalu diadu siapa yang paling terampil dan sigap, tim itu yang terpakai.
 
Hukum utamanya: no room for error. Tak boleh ada kesalahan. Sekecil apapun. Harus sempurna. Perfect! Sebab sekali teledor bisa fatal dan nyawa menjadi taruhannya! Ingat kematian mantan PM Jepang, Shinzo Abe, yang ditembak pelaku tunggal, lone wolf, dari arah belakang, Jumat 8 Juli 2022?
 
Keteledoran para pengawal 'menutup' area di belakang Abe, berakibat fatal.
 
 
Bila VVIP sampai celaka, semua dalam bahaya. Para pengawal juga dipermalukan!
Ketika presiden yang masih aktif sampai celaka fatal keamanan negara taruhannya. Presiden Kennedy ditembak di Dallas dan seluruh negara jadi saling curiga.
 
Seragam para pengawal yang kerap dipilih lebih banyak memakai warna hitam. Setelan jas, dasi dan kacamata hitam. Mengapa harus hitam?
 
Secara psikologis warna hitam membuat para pengawal kelihatan lebih berwibawa, tegas, garang sekaligus menakutkan.
 
Orang awam akan risih dan segera menjaga jarak, apabila rombongan ini lewat!
Sebetulnya itu hanya permainan warna. Coba bayangkan bila pengawal tadi memakai seragam putih-putih, malah terkesan –friendly- yang mendorong orang untuk bergerak mendekat, dan itu bisa berbahaya!
 
 
Hitam, warna paling tepat untuk pengawalan dalam format resmi dan penting.
Sebetulnya, siapa, ya, yang punya ide ini pertama kali?
 
Kita lalu mundur ke belakang, semasa Perang Dunia Kedua, adalah perancang busana kelahiran Jerman – Hugo Boss- yang memulainya.
 
Ia mendisain beberapa seragam penting untuk Jerman semasa masih dibawah kendali Hitler.
Hugo merancang seragam Sturmabteilung (SA) - Detasemen Badai, seragam coklat, yang merupakan sayap para militer dari partai Nazi sebelum ia berkuasa penuh. Kalau sekarang ormas kepemudaannya.
 
SA lalu dibubarkan, ketika Hitler menjadi kuat karena militer Jerman berhasil dirangkul. Sayap ini tidak dibutuhkan lagi.
 
Selain itu Hugo juga merancang seragam pramuka, pasukan AD, AL dan AU Jerman sampai jas hujan para jendralnya yang indah. Kombinasi warna hijau dengan lidah merah di bagian belahan tengahnya sungguh gagah!
 
Pengawal VVIP Siaga
 
Rancangan Pak Hugo yang paling fenomenal adalah seragam pasukan SS, pasukan gerak cepat kebanggaan Hitler. Semua serba hitam. Membuat bulu kuduk berdiri. Menakutkan!
 
Rasanya sangat berbeda bila kita melihat segerombolan orang berseragam hitam loncat dari truk, bila dibandingan dengan orang-orang ini berseragam putih-putih, misalnya.
 
Melihat warna hitam bergerak bersamaan dengan cepat, sinyal waspada orang awam sekaligus was-was langsung di kirim ke otak untuk diolah. Ada apa ini?
 
Padahal bisa jadi orang-orang ini tidak melakukan apapun!
 
 
Pasukan dengan warna hitam inilah yang membentengi Hitler, ada –sedikitnya- 500 pengawal yang melekat 24 jam! Terdiri atas tentara dengan senjata otomatis (foot soldiers), pasukan motor, pasukan bermobil dan ditutup kawalan kendaraan berlapis baja lengkap dengan senjata penangkis serangan udara.
 
Betapa paranoidnya Hitler akan keamanan diri sendiri! Perasaan yang sama yang kini menghinggapi presiden Korea Utara, Kim Jong Un.
 
Semasa PD Kedua berakhir, semua yang berbau Nazi dan Hitler dinyatakan dilarang. Pertingginya ditangkapi. Hugo sempat diinterogasi tapi dilepaskan lagi karena ia bekerja (mendisain) murni sebagai profesional.
 
Warna hitam bagi para pengawal orang penting ini ternyata mempengaruhi banyak negara, dan memakainya hingga sekarang.
Presiden kita, dalam beberapa acara penting dan resmi pun ‘menurunkan’ pengawal memakai seragam hitam.
 
 
Tapi dalam acara yang sifatnya santai dan tidak resmi para pengawal ini mengenakan seragam kaos lengan pendek atau batik.
Namun, tetap, jangan coba-coba menerobos, lho, ya, meski warna seragamnya santai sebab tingkat kewaspadaannya tetap sama.
 
Aturannya tetap sama: No room for error!
Foto 1: Pengawal presiden bisa juga wanita. Tas yang ditenteng itu bisa senjata lipat otomatis (untuk menggempur) bisa juga -blanket/ selimut- fungsinya, ya, mirip selimut terpal tapi berbahan kevlar yang anti peluru dan ledakan. Dalam darurat presiden dibungkus selimut ini.
 
Foto 2: Para pengawal ini mempertontonkan keadaaan -siaga satu- senapan mesin siap menyalak, mata waspada, dan 'selimut' yang berada hanya sejangkauan tangan!
 
(Gunawan Wibisono/ Tajuk24)
 

Editor: Gunawan Wibisono

Tags

Terkini

'Kiamat' Smartphone di Depan Mata, ada Gantinya?

Rabu, 28 September 2022 | 20:47 WIB

The Long Walk dan Sejarah Singkat Nama Trah Windsor

Selasa, 27 September 2022 | 19:07 WIB

Perjaka Membeludak, Bukti Resesi Sex Terjadi di Jepang

Selasa, 27 September 2022 | 17:39 WIB

Kisah Sampanye, Bertie dan Raja Charles III

Senin, 26 September 2022 | 18:10 WIB

Benua yang Pertama di Bumi Tenggelam, Lalu Muncul Lagi

Minggu, 25 September 2022 | 19:21 WIB

Wow! Demi Moore Makin Memukau di Usia 60 Tahun!

Jumat, 23 September 2022 | 10:32 WIB
X