• Selasa, 31 Januari 2023

Presiden: Indonesia Miliki Potensi dan Kekuatan Besar, Harus Optimistis

- Jumat, 2 Desember 2022 | 20:01 WIB
Presiden hadiri acara Kompas100 CEO Forum di Istana Negara (dok: setpres)
Presiden hadiri acara Kompas100 CEO Forum di Istana Negara (dok: setpres)

JAKARTA, Tajuk24.com. - Presiden RI Joko Widodo kembali menggaungkan optimisme kepada semua pihak dalam menghadapi berbagai masalah yang melanda dunia saat ini dan ke depannya.

Presiden menjelaskan alasan untuk tetap optimistis adalah karena Indonesia memiliki potensi dan kekuatan besar, antara lain sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang melimpah.

“Berkali-kali saya sampaikan, kita ini memiliki potensi besar, memiliki kekuatan besar, tapi sering kita lupakan. Kita memiliki sumber daya alam (SDA), kita memiliki SDM, nanti akan muncul bonus demografi 2030 diperkirakan 201 juta tenaga produktif kita,” ujar Presiden saat menyampaikan pidato kunci dalam acara Kompas100 CEO Forum Tahun 2022 di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat, 2 Desember 2022.

Disamping itu, Indonesia juga memiliki pasar yang besar, termasuk pasar ASEAN yang mencapai 600 juta penduduk. Presiden melanjutkan, dari sisi geografis, posisi Indonesia juga sangat strategis karena berada di jalur perdagangan dunia.

Baca Juga: UMKM Sebagai Bantalan Selama Krisis. Apa Dampak Resesi Tahun Depan Bagi UMKM dan Bagaimana Menghadapinya?

“Kekuatan inilah yang harus kita ingat-ingat terus dalam rangka membangun sebuah strategi besar bisnis negara, strategi besar ekonomi negara agar kita bisa mencapai visi yang kita inginkan,” ungkap Jokowi dilansir dari laman presidenri.go.id.

Menurut Kepala Negara, Indonesia sudah lama menganut keterbukaan ekonomi. Namun, Presiden menegaskan bahwa keterbukaan ekonomi tersebut jangan sampai disalahartikan. Presiden mencontohkan, sejumlah negara di Amerika Latin yang sudah menerapkan keterbukaan ekonomi sejak 1950-an dan 1960-an, justru tetap menjadi negara berkembang hingga saat ini.

“Apa yang terjadi? Sudah lebih dari 50, 60, 70 tahun, negara mereka menjadi negara berkembang terus. Saya ikuti, ini ada apa? Ada problem apa di sini? Problemnya mengartikan keterbukaan itu membuka seluas-luasnya untuk investor. Ini benar, tapi hati-hati,” jelasnya.

Baca Juga: Hadiri Mukerwil PAN Jateng, Ganjar Panen Dukungan: ‘Boleh dong Kader PDI-P Diapresiasi Partai Lain?’

Presiden memandang hal yang berbeda terjadi di Taiwan dan Korea Selatan yang kemudian membuat pemerintah mendesain strategi besar, yaitu harus membuat negara lain bergantung kepada Indonesia. Menurut Presiden, banyak negara yang sebetulnya bergantung kepada Indonesia, misalnya terkait batu bara dan minyak sawit mentah atau CPO.

Halaman:

Editor: Gunawan Wibisono

Tags

Terkini

Stres Sampai 'Hilang Ingatan' karena Ditipu Wowon Cs

Senin, 30 Januari 2023 | 18:29 WIB
X