• Selasa, 31 Januari 2023

Sejarah: Putri Raja dan Winston Churchill, Kisah Sebuah Bangsa yang Tak Mudah untuk Menyerah

- Kamis, 27 Oktober 2022 | 17:23 WIB
Putri Margaret dan Putri ELizabeth membacakan siaran yang memberi semangat pada para prajurit Inggris di medan perang
Putri Margaret dan Putri ELizabeth membacakan siaran yang memberi semangat pada para prajurit Inggris di medan perang
13 Oktober 1940, Putri Elizabeth saat itu baru berusia 14 tahun dan adik satu-satunya, Putri Margaret, 10 tahun, nampak sedang melakukan siaran radio BBC untuk pertama kalinya. Bukan untuk siaran acara anak-anak, keduanya sedang memberi dorongan semangat untuk seluruh tentara Inggris yang sedang berada di garis depan.
 
"Kami mencoba melakukan semua yang kami bisa untuk membantu para pelaut, tentara, dan penerbang kami yang gagah berani yang ada di medan perang. Dan kami juga berusaha untuk menanggung bagian kami sendiri dari bahaya dan kesedihan perang"
 
Perang Dunia Kedua sedang sengit. 14 Juni 1940, 4 bulan sebelumnya, Paris berhasil dikuasai Nazi-Jerman. Seluruh Perancis dan negara-negara dataran rendah - Belanda, Luxemburg dan Belgia telah jatuh ke tangan Hitler, sekali sapu, hanya dalam waktu 6 minggu.
 
Jadi, praktis tinggal Inggris sendirian di sudut barat laut. Posisinya yang berada di pulau, dipisahkan oleh lautan, mirip petinju yang kelelahan dan berhasil 'diselamatkan' oleh bunyi lonceng (saved by the bell)
 
 
Kalau tak ada selat Kanal, sudah pasti Inggris juga akan dilumat sekalian. Kekuatan dan kecepatan pasukan Jerman tak tertandingi saat itu.
 
Kini, untuk menaklukkan Inggris, sebelum dilakukan serbuan darat, pembom Jerman sudah mulai meluluhlantakkan semua kota besar di Inggris. Setiap malam kota-kota itu dibom!
 
Ini tekanan teror yang luar biasa hebat, agar rakyat ketakutan dan akhirnya mendesak Raja agar sebaiknya menyerah saja pada Jerman.
 
Di parlemen, sudah mulai terdengar suara-suara agar sebaiknya Inggris menyerah dan 'bekerja sama' dengan Hitler. Celakanya, yang menjadi 'sponsor' agar Inggris sebaiknya menyerah, demi (katanya) untuk menyelamatkan rakyat, adalah politisi senior, sekaligus Pemimpin House of Lords, semacam Dewan Bangsawan, ia adalah Edward Wood bangsawan pertama dari Halifax sebuah kota di timur laut Manchester. Maka, ia kondang disebut Lord Halifax.
 
 
Sudah diatur soal acara pertemuan damai, dengan Italia sebagai mak comblang. Dengan lobi kuat Halifax semasa ia menjadi tangan kanan PM Neville Chamberlain, hampir semua anggota parlemen setuju.
 
PM Winston Churchill yang mulai bertugas pada 10 Mei 1940 mendapat tekanan hebat dari para wakil rakyat. Bola -menyerah atau tidak pada musuh- tinggal di tangan Churchill dan Raja George VI -ayah Elizabeth- yang saat itu berkuasa.
 
"Anda harus ambil keputusan, Winston! SEGERA! Rakyat sudah terlalu menderita terus dibom setiap malam!" demikian para wakil rakyat teriak.
"Sampai kapan kami jadi bulan-bulanan seperti ini?" timpal yang lain.
 
Winston tercenung, ia bingung sekali. Ada pertaruhan sekaligus bahaya besar menanti di depan mata. Karenanya, ia tak boleh terburu-buru dalam membuat keputusan.

 
Winston tahu, ia tidak mau mendengar suara dari parlemen saja, ia juga harus tahu bagaimana pendapat pihak lain, yakni rakyat!
 
Negara memang sedang susah. Wakil Rakyat terus memberi tekanan politik hebat, namun, apa betul masyarakat biasa yang paling terdampak pemboman sudah lelah, menderita dan ingin menyerah??
 
"Sebentar, saya mau keluar dulu.."
Tubuh tambunnya segera ngeloyor keluar gedung parlemen diiringi teriakan dan cemooh seluruh Wakil Rakyat yang kesal.
 
Winston berjalan menyusuri jalan raya, hujan Oktober menguyur mantelnya namun ia tak peduli. Segarnya air hujan malah membuat tenang pikirannya yang sedang risau. Tanpa terasa kakinya melangkah masuk ke dalam stasiun kereta bawah tanah.
 
Warga London terpaksa tidur di lorong kereta bawah tanah guna menghindari bom Jerman (twitter)
Jaringan kereta bawah tanah di London sudah ada sejak 159 tahun silam, tepatnya mulai 10 Januari 1863. Jalurnya berliku-liku. Lorong-lorong inilah yang menyelamatkan penduduk London dari pemboman setiap malam.
 
Begitu petang tiba, mereka akan berduyun-duyun masuk ke dalam terowongan dan bermalam disana.
Winston sungguh prihatin melihat penderitaan rakyatnya. Entah sampai kapan mereka akan bermalam di lorong berdebu, menggelar tilam dan manyantap makan malam seadanya?
 
Bom Jerman bertebaran setiap malam. Bisa mendarat dimana saja. Salah satunya malah menghantam bagian belakang Rumah Dinasnya di Downing Street no: 10 dan menghancurkan dapur!
 
Untuk tindakan berjaga-jaga, pihak keamanan telah membuatkan semacam bunker bawah tanah bagi Perdana Menteri dan keluarganya. Dari ruang rapat di lantai dua, bila keadaan darurat tiba, ada pintu ‘kondisi bahaya’ berikut tangganya langsung menuju ruang bawah tanah. Ruangan itu masih ada hingga saat ini. Terawat dan terjaga, untuk mengenang masa sulit.
 
 
Setelah bersusah payah, Winston masuk juga ke dalam sebuah rangkaian kereta.
Penerangan dalam kereta nampak temaram, dan Winston bisa melihat wajah-wajah risau disana-sini, sampai akhirnya seseorang mengenalinya dan kegaduhan pun langsung muncul.
 
Dalam sekejap berita tersebar dan gerbong jadi riuh. Bagi rakyat biasa, bisa jadi ini kali pertama seorang Perdana Menteri, sejak Robert Walpole, Perdana Menteri pertama, yang bertugas juga yang terlama, selama 21 tahun, 1721-1742, pada masa pemerintahan Raja George I, ada seorang pejabat tertinggi di pemerintahan yang mau naik kereta, berbaur dengan warga jelata.
 
Semua orang segera merubung. Dan Winston melihat peluang. Ia menceritakan tekanan yang dialaminya, termasuk dorongan dari Wakil Rakyat agar sebaiknya Inggris menyerah saja pada kekuatan Nazi-Jerman.
 
Mendengar usulan menyerah, diluar dugaan, orang-orang seisi gerbong marah, sangat marah!
“Menyerah? Enak saja!”
“Tidak bisa!”
“Lawan, Pak. Lawan! Kami mendukung Bapak, kami di belakang Bapak, siap berjuang! Apapun resikonya!” teriak seorang ibu penuh semangat.
 
 
Hati Winston bergetar. Ia tak menyangka reaksinya akan seperti ini. Ia terharu dan menahan emosinya sendiri, menahan sudut-sudut matanya agak tidak basah. Rakyat yang luar biasa, hampir saja ia berteriak!
 
Dalam penderitaan berat pun mereka tetap berani! Puluhan orang merubungnya dan suara mereka sama! Tak ada seorangpun yang bersikap pengecut seperti para Wakil Rakyat di gedung parlemen nan megah di dalam sana.
 
Churchill bergegas turun. Ia telah mendapat suara dan semangat Inggris yang sesungguhnya!
 
Petangnya ia menghadap Raja, dan diluar dugaan, Raja juga memiliki semangat dan keberanian yang sama dengan rakyatnya.
 
 
Bertie, demikian nama panggilan Raja, dari nama aslinya: Albert, memang kesulitan saat berbicara. Ia gagap dan nafasnya kerap tersengal-sengal, namun keberanian seseorang tak ada kaitannya dengan kondisi fisik, bukan?
 
Selain berani, Bertie juga cerdik. Ia tahu, cepat atau lambat, Inggris akan kembali berperang menghadapi Jerman, setelah perang panjang di tahun 1914-1918, Perang Dunia Pertama, yang melelahkan, menyedihkan dan menguras kas negara.
 
Dengan naiknya ‘Herr Hitler’ sebagai orang paling berkuasa di Jerman sejak 30 Januari 1933, dunia sudah ketar-ketir. Militer dibangun dengan masif dan tinggal masalah waktu saja Jerman akan mulai menyerang para tetangganya sendiri.
 
Untuk membangun rasa kebanggaan bagi rakyatnya, saat naik tahta 11 Desember 1936, ia menyingkirkan nama Albert yang lebih berbau Jerman dan memilih meneruskan nama ayahnya sendiri, maka, ia mengambil gelar: George VI. Nama George jelas lebih berbau asli Inggris.
 
 
George juga sangat menentang kedigdayaan Jerman.
“Engkau mendapat dukunganku, Winston, untuk menghadapi Jerman. Lakukan apa saja. Engkau mendapat restuku”
 
Hari itu Winston seakan terbang.
 
Ia kemudian menyusun pidato yang terkenal:
 
"Kami akan terus berjuang sampai titik penghabisan. Kami akan bertarung di Prancis, kami akan bertarung di laut dan samudera. Kami akan bertarung dengan kepercayaan diri yang semakin besar dan kekuatan yang semakin besar. Di udara, kami akan mempertahankan pulau kami, berapa pun biayanya!”
 
 
“Kita akan bertarung di pantai, kita akan bertarung di tempat pendaratan, kita akan bertarung di ladang dan di jalanan, kita akan bertarung di perbukitan. Kita tidak akan pernah menyerah!”
Dan BBC mengudarkannya.
 
Rakyat terbakar oleh semangat, keberanian menjalar ke seluruh pulau! Semua siap mempertahankan negara, berapapun biayanya, dengan nyawa sekalipun.
 
Tunggu dulu, bagaimana dengan para Wakil Rakyat yang sudah demikian bergelora ingin damai? Suara mereka tentu tenggelam.
 
Bagi sebagian dari mereka, asal jelas ‘perhitungannya’, berdamai dengan musuh meski harus menjual negara sendiri pun -rasanya- tak apa-apa..
Bukankah itu terjadi sampai saat ini?  (Gunawan Wibisono)
 
 
 

Editor: Gunawan Wibisono

Tags

Terkini

Peta Taman Makam Pahlawan Jepang di Bawah Laut

Kamis, 8 Desember 2022 | 23:36 WIB

Hoax yang Membawa Keberuntungan

Kamis, 8 Desember 2022 | 23:10 WIB

Upacara Siraman Adat Jawa Yang Penuh Simbol Dan Makna

Selasa, 6 Desember 2022 | 18:25 WIB

KIDO BUTAI (2): Persaingan 2 Admiral!

Senin, 5 Desember 2022 | 15:07 WIB
X